Belajar Mengampuni; sebuah kesaksian hidup

Rumah tempat tinggal kami adalah semua kompleks perumahan yang tidak terlalu besar. Dikawasan kami banyak bertebaran perumahan-perumahan. Biasanya untuk menuju satu perumahan ke perumahan lain kita harus melintas jalan, yang biasanya orang suka menyebutnya jalan kampung. Demikian jugalah dengan kami. Antara kompleks perumahan dimana kami sekeluarga tinggal dengan kompleks perumahan tetangga, kami juga harus melewati jalan kampung tersebut, jalannya tidak terlalu lebar, hanya pas untuk 2 buah mobil.

Suatu malam, aku dan istriku dan beberapa teman baru saja mengikuti Misa dan Adorasi disebuah perkantoran di kawasan Jalan Jend. Sudirman Jakarta Pusat. Hari sudah larut dan kami terlebih dahulu mengantar teman pulang yang turut serta didalam mobil kami. Rumah teman kami itu berada di sebuah kompleks perumahan yang letaknya di belakang kompleks kami, setelah itu baru kemudian kami kembali. Ketika kami kembali, hari sudah larut malam, mau tidak mau kami harus melalui jalan kampung tersebut. Disalah satu bagian jalan tersebut terdapat suatu ruas jalan yang sempit, menyiku hampir 90 derajat dan hanya dapat dilalui oleh satu kendaraan. Biasanya di siang hari selalu ada pa ogah yang mengatur arus lalu lintas agar dapat dilalui dengan baik dengan cara bergantian.

Karena hari sudah larut, pa ogah-pun sudah tidak bertugas lagi disana. Ketika melewati jalan sempit tersebut, karena kondisi jalan yang gelap, seperti biasanya, aku memberi tanda isyarat dengan menyorotkan lampu mobil lurus kedepan agar kendaraan yang mungkin datang dari arah sudut yang lain dapat mengetahui kehadiranku. Tentunya agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan semua pihak. Sepertinya lancar-lancar saja sebab tidak ada balasan lampu isyarat yang aku lihat dari sudut yang lain. Tetapi …. tiba-tiba ……. busyettt …. !!!! Ada mobil yang langsung berhenti dihadapan mobil yang kukendarai. Aku terkejut. Mengapa dia seperti itu. Bagian depan mobilku sudah mengarah ke belokan tersebut dan sedikit ruang yang ada itu tiba-tiba terlahang oleh kehadiran mobil tersebut secara tiba-tiba.

Melihat posisi mobilku, seharusnya dia menghentikan sebentar kendaraannya, toh aku sudah memberi tanda sebelumnya, membiarkan aku lewat dan setelah itu dia dengan mudah dapat melintas. Tidak demikian kenyataannya. Ternyata dia tidak mau mengalah. Aku juga tidak mau mengalah. Aku beri dia tembakan lampu yang menyilaukan. Dia juga melakukan yang sama bahkan sedikit memajukan kendaraannya seolah menantang. Akupun melakukan yang sama. Berkali-kali istriku mengingatkanku untuk mengalah. Aku tidak mau. Keadaan menegang. Malam begitu gelap, sepi dan memang dilokasi tersebut tidak ada pemukiman yang terlihat. Karena desakan istri yang terus-menerus untuk mengalah dan memang situasinya gelap, akhirnya aku mengalah. Aku memundurkan kendaraanku dan membiarkan orang itu lewat terlebih dahulu. Sepertinya selesai. Tidak. Hatiku panas …. panas sekali.

Akhirnya kami sampai juga dirumah. Hatiku masih kesal dan kesal sekali. Kemudian kami pergi tidur. Seperti biasa, sebelum tidur masing-masing kami berdoa. Apa yang terjadi .. ? Aku tidak dapat berdoa. Hati ini masih kesal dengan pengemudi tadi. Yang ada dipikiranku ialah ; seandainya saja aku tadi mengemudikan sebuah tank (kendaraan untuk berperang) aku pasti sudah melindasnya sampai hancur; atau kalau saja tadi aku membawa senjata, aku akan menembak dan menghancurkan kendaraannya tanpa ampun. Mengapa ada orang seperti itu didunia ini yang begitu egois, keluhku dalam hati saat itu. Aku belum dapat menerima kenyataan bahwa aku harus mengalah dengan orang macam itu pada malam itu, dia yang seharusnya mengalah karena posisiku yang lebih memungkinkan untuk melintas terlebih dahulu. Perasaan kesal dan dendam bercampur aduk karena saat itu aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk membalas perbuatannya padaku. Malam itu aku tidak dapat berdoa bahkan walaupun mata terpejam, aku sebenarnya tidak dapat tidur sampai pagi.

Pagi-pagi bangun aku menjalankan aktivitasku seperti biasa, memang terasa lelah karena aku tidak dapat tidur semalaman. Perasaan kesal, marah dan dendam terhadap pengemudi semalam masih terus melintas dibenakku. Malam kembali tiba. Sebelum tidur aku menyilangkan kakiku diatas tempat tidur untuk berdoa. Karena perasaan dendam masih ada, kembali aku tidak dapat berdoa. Aku memang duduk diam tetapi yang ada dipikiranku saat itu adalah mengimajinasikan cara apapun untuk menghajar pengemudi tersebut agar dia kapok, jangan sok mau menang sendiri. Kembali malam itu aku tidak dapat tidur karena amarah, kesal dan dendam masih bercokol di pikiran dan hatiku. Pagi-pagi aku bangun. Aku merasa sangat lelah.

Malam kembali tiba. Aku kembali menyilangkan kakiku diatas tempat tidur untuk berdoa. Malam ini rupanya agak berbeda. Setelah beberapa hari membiarkan-ku dikuasai oleh amarahku yang luar biasa, malam ini Tuhan menarikku dalam pelukan cintaNya. Malam ketiga ini, aku tiba-tiba menyadari kembali hidupku yang dulu sebelum aku mengenal cintaNya. Aku dulu orang yang emosional, amarahku mudah sekali meledak-ledak. Tuhan, melalui liku-liku hidup yang harus kulalui, melalui doa, pembacaan Kitab Suci dan Retreat-retreat, telah memampukanku untuk secara perlahan merubah semua kelemahanku itu. Aku kembali mengenang kebaikan Tuhan atas hidupku. Malam itu aku berdoa “Tuhan Yesus … Engkau telah merubah hidupku dari segala sifat burukku yang lama, aku telah merasakan kasihMu. Aku tidak mau kembali kepada kehidupanku yang lama, yang penuh amarah, mudah kesal dan dipenuhi rasa dendam. Tapi Tuhan, aku tidak mampu memaafkan orang itu …… Tolong bantu aku Yesus .. !!!”. Aku percaya malam itu Roh Kudus benar-benar mengajari aku berdoa. Aku melanjutkan doaku. “TUHAN YESUS .. BERI AKU KEKUATAN-MU SENDIRI AGAR AKU MAMPU MEMAAFKAN ORANG ITU”, tanpa ada jeda, aku lanjutkan doaku “TUHAN YESUS, SIAPAPUN DIA AKU MAU MEMAAFKAN ORANG ITU SAAT INI JUGA – AMIN”. Tiba-tiba saja, setelah aku menyelesaikan doaku itu, segala beban yang menindih kepalaku, yang membalut seluruh hatiku, amarah, kesal, dendam menjadi TERLEPAS. Aku seperti seorang tawanan yang baru saja menyelesaikan masa penahannya dan saat ini menjadi manusia bebas. Seperti seekor Rusa dipadang gurun yang menemukan sumber mata air dan meminum sepuasnya. Kembali, aku merasakan sukacita yang luar biasa. Aku bersyukur kepada Yesus yang telah mengajariku banyak hal. Aku menjadi heran pada diriku sendiri. Pada waktu aku mengikuti retreat Penyembuhan Luka Batin sebelumnya, akupun telah diajarkan bahkan mempraktekkan sendiri tindakaan memaafkan orang. Mengapa terhadap pengemudi itu aku tidak bisa ???. Pikirku, betapa bodohnya aku ini.

Ya … aku jadi ingat apa yang dikatakan oleh St. Petrus bahwa kalau kita tidak dapat menguasai diri kita dan menjadi tenang, maka kita tidak mungkin dapat berdoa (bdk 1 Ptr 4 : 7). Yang pertama dan utama adalah kesungguhan kita dalam mengasihi orang lain karena Kasih menutupi banyak sekali dosa (bdk 1 Ptr 4 : 8). Begitu juga dengan amarah, sama sekali tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (bdk Yak 1 : 20) dan buahnya jelas yaitu dosa, dendam, kelelahan fisik dan tentu saja merugikan orang-orang disekitar kita. Contoh yang paling utama adalah apa yang dilakukan Yesus diatas Kayu Salib ketika Dia berkata : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23 : 34).  Memaafkan itu menyembuhkan. Memaafkan adalah praktek KASIH. Malam itu aku kembali bisa menikmati malam yang indah dengan tidur nyenyak.

Syallom,

Hamdani Gunawan

Tagged with:
 

Recent Entries

  • REFERENSI

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *