Matius 18 : 1 -5; sebuah dasar motivasi pelayanan Kristen

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga … “. Inilah sekelumit Sabda Yesus yang terdapat pada perikop Matius 18 : 1 – 5. Saya yakin, kita sangat sering mendengar Sabda Yesus ini. Saya sendiri kembali mendengarnya ketika diadakan Misa di Lingkungan kami Selasa 10 Agustus 2010 yang baru lalu. Entah kenapa, saya terdorong untuk menulis sesuatu tentang bacaan ini yang menurut saya sangat baik untuk menjadi bahan permenungan pribadi bagi siapa saja yang saat ini aktif dalam pelayanan gerejawi. Mengapa, karena konteksnya sama yaitu pertanyaan “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” seperti yang ditanyakan oleh murid-murid Yesus, seringkali juga muncul dalam benak para pelayan-pelayan Kristus saat ini, walau mungkin bukan dalam konteks Kerajaan Allah.

Sifat Manusia

Sepertinya sudah menjadi sifat manusia kalau dirinya sangat ingin dihargai, dihormati, dianggap, diakui perannya dan tentunya dengan memangku jabatan yang sangat penting. Tak terkecuali para murid Yesus. Sebelum sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, para murid memiliki persepsi yang salah tentang mesianitas. Dalam benak mereka, seperti kebanyakan persepsi masyarakat Yahudi pada saat itu, Mesias adalah seseorang utusan Yahwe yang akan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa lain (Romawi). Mesias ini akan berperan sebagai Raja duniawi yang akan memimpin mereka sebagai bangsa terpilih. Israel sangat memimpikan kembalinya kejayaan seperti pada masa Daud, raja kebanggaan orang Israel.

Pertanyaan murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga tak terlepas dari persepsi mereka tentang seorang Mesias yang akan membebaskan mereka dari bangsa Roma dan Yesus kemudian tampil menjadi raja mereka. Tak heran, mereka sibuk memikirkan dan membayangkan posisi mereka kelak. Kita juga mungkin masih ingat permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes kepada Yesus untuk menempatkan anak-anak mereka disisi kiri dan kanan Yesus saat Yesus kelak menjadi raja (Mat 20:20-28).

Sifat Anak Kecil

Apa yang ada dibenak kita ketika harus mempersepsikan seorang anak kecil ? Kepolosan, apa adanya, jujur. Ibarat selembar kertas, dia masih putih, bersih belum ada tulisan apapun diatasnya. Ya .. kurang lebih seperti itulah yang disampaikan Romo saat homili pada Misa Lingkungan yang saya ceritakan diatas, kita memang sering mendengar seperti itu dan ini tidak salah.

Saya akan mencoba menawarkan sebuah pandangan lain yang mungkin akan membantu kita merenung dan sebagai bahan untuk melihat kedalam diri kita masing-masing.

Pertama, seorang anak kecil pastilah belum mampu memutuskan segala sesuatu yang menyangkut hidupnya berdasarkan keputusannya sendiri. Seorang anak menggantungkan hidupnya kepada orang tuanya. Seorang anak kecil sangat percaya kepada orang tuanya tanpa banyak tanya. Seorang anak kecil sepenuhnya pasrah pada kehendak orang tuanya. Dalam konteks kerohanian, inilah yang disebut dengan IMAN. Iman adalah sebuah bentuk kepasrahan total kepada kehendak dan rencana Allah semata. Artinya juga, bahwa kita berani dan mau menanggalkan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada Allah dan hanya melakukan apa yang menjadi kehendak-NYA saja. SETIA dan TAAT adalah ungkapan iman yang sesungguhnya. Apakah ini terdengar abstrak ? Bagaiamana wujud sebuah kepasrahan ? Jangan bingung. Mulailah segala sesuatu didalam DOA. Letakkanlah segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita di dalam terang iman artinya berfikir, berkata dan berbuat sebagaimana Yesus berfikir, berkata dan berbuat.

Kedua. Anak kecil, sebagaimana juga seorang Perempuan, adalah warga kelas dua bagi masyarakat Yahudi pada jaman Yesus dan sebelumnya. Kita masih ingat ketika Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ekor ikan (Mat 14:13-21). Yang tercatat ikut makan adalah lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (ayat 21). Perempuan dan anak-anak tidak termasuk hitungan.

Apa artinya ? Menjadi murid Yesus, menjadi pengikut Yesus, apalagi menjadi pelayan Yesus harus siap untuk tidak dihargai, tidak dihormati, tidak dianggap, tidak diakui perannya. Menjadi pelayan adalah salah wujud keikutsertaan kita didalam tugas perutusan. Seperti Kristus keluar dari Surga, datang kepada manusia untuk membagi kasih dan membawa manusia kepada keselamatan, kita orang-orang Kristen sebagai murid-murid Yesus juga dipanggil untuk hal yang sama. Kita harus keluar dari diri sendiri, menjadi seorang utusan dan menjadi hamba bagi orang lain. “ ….. sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh 20 : 21).

Menjadi seorang utusan pertama-tama bukanlah untuk mencari nama besar ataupun jabatan penting tetapi justru untuk memuliakan Bapa-mu yang disurga (Mat 5 : 16). Bahkan St. Paulus mengatakan bahwa upahku ialah boleh memberitakan Injil tanpa upah (bdk 1 Kor 9 : 18), maksudnya supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Kor 9 : 27). Disini jelas bahwa kegiatan pelayanan Kristiani haruslah pertama-tama dan terutama adalah mewartakan kabar baik, berbagi kasih dan memuliakan nama Tuhan, bukan untuk membangun popularitas diri sendiri. ” …. sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga” (bdk Mat 19 : 14).

Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati.

J. Hamdani Gunawan

Tagged with:
 

Recent Entries

  • REFERENSI

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *