Seorang anak bukanlah Robot ….

Teman-teman yang terkasih, Hari ini di rumah retret ada retret murid SMP. Salah seorang peserta katakan saja namanya Valent. Dia diminta oleh salah satu pembimbing untuk bertemu saya. Anaknya cantik, bersih, cewek, anak kedua dari tiga bersaudara. Ia datang di kamar kerjaku dengan wajah agak takut. Maka kusodorkan krayon dan kertas putih. Saya bilang: ”Coba kamu menggambar sebuah pohon dengan tangan kiri!”. Dia menggambar sebuah pohon kecil. Letaknya di bagian atas halaman kerjas HVS dan terlihat gambar yang kaku dan tanpa akar. Saya bertanya: “Dik, kamu puas dengan gambar ini?” Jawabnya: “haa…nggak tahu….!” “Setelah lulus SMP mau kemana?” “haa…Gak tahu…!” “Kalau besar cita-citamu apa sih dik?” Jawabnya sama “haah gak tahu!” Setiap kali saya tanya jawabannya selalu “haah.. gak tahu!”. Dan saya harus selalu mengulangi pertanyaan saya. Anak ini terlihat kaku, tidak konsentrasi dan bengong.

Ketika saya minta untuk menulis sebuah kalimat, dia membuat kalimat yang panjang: “saya adalah manusia biasa yang masih memiliki banyak kekurangan..!” Kalimat panjang dan logis, tetapi mengapa dia menjadi kaku, bengong dan tak mempunyai gairah hidup? Setelah lama berdialog, saya menyimpulkan bahwa dia tidak mampu menghargai dirinya sendiri. Mengapa? Ayahnya seorang montir yang sangat sering membentak dan main kasar terhadap mamanya dan terhadap Valent. Ibunya seorang perawat yang lumayan perhatian terhadap anak-anaknya. Yang kiranya membuat Valent menjadi seperti robot adalah kedua orangtuanya menuntut dia untuk menjadi anak pinter, maka harus ikut aneka macam les – seminggu empat hari. Mereka sangat jarang bisa berkumpul untuk makan bersama atau bergurau, bermain dengan anaknya. Gambar pohonnya “tidak ada akarnya!” Ketika saya tanya: “mengapa gambar pohonmu tidak ada akarnya….apakah kamu sering ditinggal oleh mama papa dan kamu kesepian?”…tak kusangka dia menangis …!

Pasutri yang terkasih, Saya yakin anda tidak mau anak-anak anda menjadi robot, kaku, bengong, tak punya gaerah hidup, tak punya cita-cita, tak mampu berterimakasih dan bersyukur! Maka seringlah berkumpul dengan mereka, bergurau dan bermain dengan anak-anak. Biarkan anak menikmati dunianya, yaitu dunia bermain. Kehadiran papa mama tidak bisa digantikan oleh siapa saja dan apa saja! Semoga anda tidak terlambat!”

Penulis : Romo Y. Haryoto, SCJ

Tagged with:
 

Recent Entries

  • REFERENSI

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *