Matematika Kerendahan Hati

Bapak dan Ibu yang terkasih, saya mau mencoba memberi suatu gambaran yang sangat sederhana bagaimana kita harus belajar rendah hati. Ini teori yang sangat sederhana, walau prakteknya tidak sesederhana teorinya.

Saya mendapat gambaran ini dari seorang teman yang kebetulan ketika saya ajak untuk ikut sel yang bersangkutan bersedia, meskipun setelah itu tidak pernah muncul lagi. Tetapi kehadirannya yang hanya sekali itu, ternyata melalui dia, Tuhan memberikan suatu pengajaran penting bahwa kerendahan hati itu sebenarnya begitu sederhana. Mari kita ikuti teori matematika dibawah ini :

Kita semua tahu bahwa :

1 : 2   = 1/2

1 : 3   = 1/3

1 : 4   = 1/4

Ketika Angka PEMBILANG (angka 1) dibagi dengan angka PENYEBUT (2, 3 & 4) yang semakin membesar, maka hasilnya akan semakin mengecil.

Kemudian, kita coba lihat yang dibawah ini :

1 : 1/2         = 2

1 : 1/3         = 3

1 : 1/4         = 4

Ketika Angka PEMBILANG (angka 1) dibagi dengan angka PENYEBUT (1/2, 1/3 & 1/4) yang semakin mengecil, maka hasilnya akan semakin membesar.

Lalu … berapakah  hasil dari     1 : 0   = ?

Hasilnya adalah 1 : 0 = tak terhingga

 

Apa artinya ?

Kita umpamakan angka PEMBILANG (angka 1) adalah TUHAN dan Angka PENYEBUT (pembagi) adalah DIRI SENDIRI. Sedangkan HASIL-nya adalah gambaran dari PERAN TUHAN dalam hidup kita.

TUHAN : DIRI SENDIRI = PERAN TUHAN dalam hidup kita

 

Dari gambaran tersebut kita bisa melihat dan menarik kesimpulan bahwa :

Semakin DIRI SENDIRI merasa besar, merasa hebat, merasa dapat melakukan segalanya dengan kekuatan sendiri dan merasa selalu yang paling benar, maka PERAN TUHAN dalam hidup kita akan semakin mengecil

 

Sebaliknya,

 

Ketika DIRI SENDIRI diposisikan sebagai mahluk lemah, tak berdaya, hanya debu, semakin merasa kecil dihadapan TUHAN, maka PERAN TUHAN dalam hidup kita akan semakin besar

 

Mari kita coba kutip beberapa contoh dari Kitab Suci :

  1. Yohanes 3 : 30  > “ Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Kita semua tahu siapa Yohanes Pembaptis. Ia seorang nabi besar yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan, namun ia tetap memposisikan dirinya kecil dihadapan Yesus.
  2. Santo Paulus, walau ia seorang penginjil besar dan luar biasa, Ia tetap merasa tidak punya alasan untuk memegahkan dirinya sendiri (1 Kor 9 : 16 ), bahwa kesanggupannya memberitakan Injil adalah pekerjaan Allah (2 Kor 3 : 5) dan ia merasa bahwa didalam kelemahannyalah, maka ia kuat (2 Kor 12 : 9 – 10)
  3. Yesus tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, IA merendahkan diri-Nya, mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2 : 1 – 11).

 

Demikian sharing ini saya sampaikan. Kehadiran seorang teman, walau hanya sekali, jangan pernah diabaikan, mungkin dia sedang dipakai Tuhan untuk memberikan suatu pengajaran penting bagi kita.

TUHAN Memberkati kita semua. Amin.

Tagged with:
 

Recent Entries

  • REFERENSI

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *